Kopi, beberapa orang menulisnyakupie, kuphi dan lain-lain. Intinya
barangnya sama yaitu sebuah minuman berwarna hitam yang
terbuat dari bubuk kopi. Kopi sangat erat dengan Aceh. Hampir setiap
sudut Kota Banda Aceh dan kotakota lain di Aceh dipenuhi warung
kopi (warkop). Penikmat kopi sangat dimanjakan dengan berbagai jenis
kopi yang ada di Aceh. Dari sudut pandang ekonomi, kopi juga menjadi
salah satu komoditas ekspor andalan Provinsi Aceh.
Jauh sebelum penulis menjadipenikmat kopi, kira-kira kurang lebih
sekitar 10 tahun yang lalu. Bagi penulis, kopi hanyalah minuman
biasa yang bisa dinikmati sendiri tanpa harus nongkrong bareng
dengan kolega dan kawan sejawat.Penulis sering membeli kopi
dibungkus untuk dinikmati di meja kerja.Namun kebiasaan tersebut
berubah seiring dengan makin lamanya menetap di Bumi Serambi
Mekah. Berbekal ajakan seorang kawan di Kantor BPS Kabupaten
Aceh Tamiang untuk minum kopi di warkop, penulis merasakan sensasi
dari minum kopi bersama di warkop.Minum kopi di warkop tidak hanya
sekedar menikmati kopi saja, banyak sekali manfaat dari minum kopi
bersama teman sejawat dan kolega di warkop.
Jika para perokok menganggap merokok adalah gaya hidup dan
budaya pertemanan, maka minum kopi di warkop juga demikian.
Minum kopi di warkop merupakan sarana untuk membangun
keakraban dalam tim kerja. Bahkan minum kopi di warkop juga bisa
membangun pertemanan baru,karena memang Pak Geuchik, Pak
Kadus, Pak Camat bahkan anggota dewan juga sering duduk di warkop
seperti masyarakat biasa. Ngopi di warkop juga bisa menjadi
penyemangat kerja setelah menyelesaikan pekerjaan atau
sebelum menyelesaikan pekerjaan.Penulis jadi teringat salah satu atasan
di BPS Provinsi Aceh pada awal 2010,kala itu salah satu atasan saya
berucap bahwa jika kita baru sajamenyelesaikan suatu pekerjaan atau
proyek makakita perlu merayakannya. Salah satu bentuk
perayaan setelah menyelesaikan pekerjaan adalah dengan ngopi
bersama dalam satu tim kerja.Dari sudut pandang ekonomi,
makanan dan minuman jadi di Provinsi Aceh menyumbang 18
persen dari total pengeluaran penduduk Aceh. Persentase ini lebih
tinggi dibandingkan pengeluaranmakanan dan minuman jadi di
Provinsi Jawa Tengah(tempatdimana penulis dilahirkan) yang
hanya sekitar 13 persen saja.
Selisih lima persen pengeluaranmakanan dan minuman
jadi membuat peluang pengusaha dalam
bidang makanan dan minuman jadiyang ada di Provinsi Aceh lebih
sejahtera dibandingkan di Jawa Tengah sangat besar. Hal ini terbukti
dengan beberapa survei kecil kecilanyang dilakukan penulis. Pendapatan
bersih warkop kecil di samping Kantor BPS Provinsi Aceh paling
kurang adalah Rp350.000/hari.Itupun paling sepi, sahut Bang
Samsul si penjual kopi di samping kantor.Artinya Bang Samsul si pemilik
kedai kopi kecil tersebut bisa mengantongi minimal 10,5 juta
setiap bulannya. Jika disetarakan dengan pegawai BPS, maka
pendapat bang Samsul sudah setaradengan seorang pejabat fungsional
muda, hehehe.Namun perlu diingat, Bang Samsul
bisa mendapatkan penghasilan seperti itu karena dampak kebiasaan
mengopi pegawai BCA, Brimob dan pegawai pegawai lainnya disekitaran
warung kopinya. Akhir kata, maribekerja membangun bangsa dan
jangan lupa ngopi demi perekonomian Aceh yang lebih baik.
Maulana Malik Sebdo Aji
(BPS Provinsi Aceh)